Lihat Semua MEDIA  
 
Keceriaan Dunia Anak di Atas Panggung
Kompas, Senin, 4 Juni 2007

klik untuk memperbesar

"Malam pun telah tiba, aku tertidur nyenyak. Aku menemukan sebuah mimpi, mimpinya sangat indah. Bagaikan putri raja dan bercanda dengan pangeran..."

Sambil menggesek biola di tangan, Anand Kamala (8) menyanyikan syair ciptaannya sendiri yang berjudul Bertemu dalam Mimpi. Syair yang diaransemen oleh sang ayah, Andy Amrullah, tersebut mampu memukau pengunjung yang memadati Gedung Societeit, Taman Budaya, Yogyakarta, Sabtu (2/6).

Kehadiran anak-anak memang selalu membawa keceriaan tersendiri. Keceriaan ini pula yang dihadirkan dalam suguhan Grand Concert Amari Jogja 2007 bertemakan "My World, My Music, In Harmony". Konser kali ini tak hanya menampilkan repertoar-repertoar, tetapi juga sebuah drama musikal dengan tajuk Dunia Ceria Anak.

Bagi Anand, belajar musik adalah suatu kesenangan tersendiri. Dari musik pulalah, siswa yang masih duduk di bangku kelas III SD Muhammadiyah Wirobrajan ini menjadi lebih percaya diri. Tampil di atas panggung diiringi orkestra, menurut Anand, sempat membuatnya grogi. "Pertamanya susah, tetapi banyak teman jadi berani," ujarnya. Selanjutnya, Anand bergabung dengan sekitar 12 anak siswa Ansambel Musik Anak dan Remaja Indonesia (Amari) Jogja menyuguhkan pertunjukan yang membawa atmosfer ceria. Imajinasi khas anak-anak dan keakrabannya dengan alam sekitar diramu menjadi suguhan menarik di atas panggung.

Drama musikal tersebut menampilkan lima repertoar yang mayoritas sudah akrab di telinga anak Indonesia, yaitu Ambilkan Bulan, Bertemu dalam Mimpi, Naik Delman, Hujan, dan Burung Kutilang. Tiap lagu menjadi istimewa dengan tingkah polah unik anak-anak yang hadir menyanyi sambil menyanyikan musik.

Lagu Burung Kutilang, misalnya, disemarakkan oleh kehadiran tiga anak yang mengenakan kostum burung kutilang. Suasana semakin hidup dengan bunyi kicau burung dan layar di panggung dengan gambar sepasang burung kutilang. Tawa penonton sesekali pecah ketika burung kutilang terjatuh.

Sementara, lagu Naik Delman ditampilkan dengan cara berbeda ketika anak-anak itu kebingungan mencari delman. Lalu, muncul dua bocah laki-laki mengenakan kostum Jawa lengkap dengan belangkon memainkan biola yang diperlakukan seolah-olah seperti kuda.

Konser tersebut bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa dunia anak-anak dan remaja adalah dunia bermain. Dunia yang penuh dengan warna, canda, keceriaan, harmoni dengan musik khas mereka sendiri. Apalagi dalam keseharian, anak-anak sering kali dihadapkan pada tekanan kesibukan orangtua, beban pelajaran, hingga masalah keluarga yang bisa menimbulkan stres.

Menurut Ketua Amari Jogja Muhadi Sugiono, konser tersebut merupakan bagian dari program tahunan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas proses pembelajaran musik. Mereka selalu menyelenggarakan konser pada awal dan pertengahan tahun. Konser kali ini cukup berbeda dengan penampilan drama musikal.

Konser yang terselenggara bekerja sama dengan Pusat Studi Jerman, Universitas Gadjah Mada, Taman Budaya Yogyakarta, dan Sekolah Menengah Musik Bantul ini tak hanya menghadirkan keceriaan dunia anak-anak. Usai jeda istirahat, konser menampilkan kepiawaian para remaja dalam memainkan alat musik, seperti bas, celo, hingga biola.

Setiap penampilan musik dalam konser tersebut selalu didukung oleh permainan orkestra dengan konduktor Fafan Isfandiar. Mereka yang terlibat dalam orkestra tersebut antara lain adalah siswa pelatihan kerja lapangan dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri II Bantul.

Amari lebih mengedepankan konsep musik untuk pendidikan. Mereka tidak mencetak murid untuk menjadi pemain musik, melainkan menggunakan musik sebagai media pembelajaran. Terutama untuk perkembangan aspek psikologis anak-anak. "Anak-anak belajar berkonsentrasi dengan menggunakan sarana bermusik," kata Muhadi. (AB9)

Kembali ke Halaman Awal | Lihat Semua BERITA DI MEDIA

 
  Copyright©2006 AMARI JOGJA